Loading...

Minggu, 15 Juli 2007

PRILAKU JAJANAN TERHADAP STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR

PRILAKU JAJANAN TERHADAP STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR

OLEH:

HENNI AGUSTRIDANI
PO. 7131005017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada tahun 1986, konsultasi gabungan para pakar FAO/WHO mengenai perlindungan pangan bagi konsumen, dengan mempertimbangkan manfaat dan masalah yang berkaitan dengan makanan jajanan kaki lima, menyarankan bahwa perlu usaha untuk (a) mendidikn pihak-pihak yang terlibat, (b) memperbaiki kondisi lingkungan tempat jual beli dan (c) memberi pelajaran guna membantu para pedagang makanan jajanan kaki lima dalam menjamin keamanan peralatannya. Selain itu teknik sederhana mengenai peraturan makanan jajanan kaki lima harus diterapkan dan tugas-tugas organisasi internasional dapat diperluas guna mempelajari makanan jajanan kaki lima dan untuk mengembangkan strategi yang tepat untuk meningkatkan keamanannya.
Kemudian pada tahun 1993, organisasi WHO melalui 6 kantor regionalnya melakukan survey di negara-negara anggota tentang makanan jajanan kaki lima dengan hasil, 74% makanan jajanan kaki lima memegang peran penting dalam penyediaan makanan bagi penduduk kota, dan makanan yang termasuk di dalamnya daging, ikan, buah-buahan, sayur-sayuran, biji-bijian, serealia, produk-produk beku dan minuman ringan. Fasilitas penjualan beraneka ragam dari gerobak makanan dan tidak cukupnya sumber daya manusia untuk pemantauan, kurangnya penerapan konsep analisis bahaya pada titik pengendalian krisis.
Di Indonesia, pada tahun 2003 dilakukan penelitian oleh BPOM terhadap 9465 sampel jajanan sekolah, ternyata 80% dari semua jajanan yang diteliti mengandung bahan-bahan yang membahayakan kesehatan seperti formalin, boraks, natrium siklamat, rhodamin B, dan sakarin.
Banyak jajanan kaki lima yang tercemar, tidak dapat dipungkiri banyak sekali dampak yang akan terjadi bagi masyarakat. Apalagi pada anak-anak dengan ketersediaan makanan dengan berbagai macam zat yang membahayakan dan dengan beraneka ragam makanan yang sedikit tidaknya dapat membahayakan masyarakat apalagi terhadap anak-anak.
Apalagi di daerah-daerah yang persaingan perdagangan yang meningkat, produsen melakukan kecurangan yang dengan modal yang sedikit tetapi mendapat keuntungan 2 kali atau 4 kali modal awal, dengan menambahkan zat natural tersebut dengan zat tambahan sintetis yang sifatnya lebih berbahaya bagi kesehatan manusia. Apabila dikonsumsi secara terus menerus dan berlebihan, namun banyak produsen yang tidak menyadari hal itu, mereka hanya memikirkan keuntungan terapi tidak mengetahui bahaya yang akan terjadi.
Dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) menerapkan ada dua macam kategori zat aditif pada makanan; pertama, zat aditif yang diizinkan untuk digunakan dengan jumlah penggunaan maksimum, kedua, zat aditif yang dilarang untuk digunakan pada pangan karena memang bersifat membahayakan kesehatan.
Perilaku jajan yang terjadi pada anak sekolah ini biasanya sangat tinggi apalagi pada anak Sekolah Dasar (SD). Karena disamping pengetahuan mereka tentang mana jajanan yang baik dan yang tidak baik itu kurang, dan pada masa inilah mereka sangat menyukai jajan, baik di dalam sekolah maupun diluar sekolah. Dan kesukaan anak pada makanan itu beraneka ragam. Biasanya anak lebih suka makan makanan yang bentuknya dan warna yang bagus, tetapi mereka tidak tau apakah makanan itu baik di konsumsi.
Adapun salah satu faktor prilaku jajan anak Sekolah Dasar adalah orang tua. Oleh karenanya disamping itu juga orang tua sangat berperan dalam prilaku anak, karenanya peneliti mengambil judul “Prilaku jajanan terhadap status gizi anak pada desa Angkup, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah”. Untuk mengetahui gambaran prilaku jajan anak yang dapat mempengaruhi status gizi anak.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: “Apakah ada pengaruh prilaku jajan terhadap status gizi anak”

1.3 Tujuan Penelitian
1.1.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku jajan anak sekolah dasar terhadap status gizinya.
1.1.2. Tujuan Khusus
1) Menganalisis pengetahuan anak sekolah dasar tentang, makanan sehat.
2) Menemukan hubungan prilaku jajan dengan status gizi anak.
3) Untuk mengetahui pengaruh dari jajanan terhadap status gizi anak.

1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi akademik, hasil penelitian dapat digunakan untuk wawasan pengetahuan mahasiswa dan juga sebagai bahan masukan atau informasi untuk mahasiswa.
2. Bagi pemerintah, agar dapat memantau dan memeriksa lebih jauh makanan-makanan yang dijual di toko, pasaran ataupu kaki lima.
3. Sebagai bahan perbandingan bagi peneliti lain yang berminat terhadap objek penelitian ini.

1.5 Keterbatasan Penelitian
Peneliti hanya membahas secara teori tentang prilaku jajan anak terhadap status gizi anak, ini dilakukan karena terbatasnya dana dan tenaga.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian
Gizi (Nutrition)
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara, normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, per­tumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
Status Gizi (Nutrition Status)
Ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tenentu. Contoh: Gondok endemik merupakan keadaan tidak seimbangnya pemasukan dan pengeluaran yodium dalani tubuh.
Keadaan Gizi
Keadaan akibat dari keseimbangan antara konsumsi dan penyerapan zat gizi clan penggunaan zat-zat gizi tersebut, atau keadaan fisiologik akibat dari tersedianya zat gizi dalam seluler tubuh.

Makanan sehat adalah makanan yang mengandung zat-zat gizi yang berfungsi bagi pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Makanan jajanan kaki lima didefinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalan dan tempat-tempat keramaian umum yang langsung dimakan atau dikonsumsi kemudian tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut termasuk buah-buahan dan sayur-sayuran segar yang langsung dikonsumsi.

2.2 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan
2.2.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Makna pengertian pertumbuhan dan perkembangan mencakup dua peristiwa yang statusnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan. Di bawah ini akan dibahas berbagai pengertian kedua istilah tersebut.
Pertumbuhan:
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang clan ke­seimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Menurut Jelliffe D.B. (1989) pertumbuhan adalah peningkatan secara bertahap dari tubuh, orgao,daq jaringan dari masa konsepsi sampai remaja.
Bukti menunjukkan bahwa kecepatan dari pertumbuhan berbeda setiap iahapan, kehidupan karena dipengaruhui oleh kompleksitas dan ukuran dari organ serta rasio otot dengan lemak tubuh. Kecepatan pertumbuhan pada saat pubertas sangat cepat dalam hal tinggi badan yang ditandai dengan perubahan otot, lemak dan perkembangan organ yang diikuti oleh kematangan hormon seks.
Perkembangan:
Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil proses pematangan. Ada pulayang mendefinisikan bahwa perkembangan adalah penampilan kemampuan (skill) yang diakibatkan oleh kematangan sistem saraf pusat, khususnya di otak. Mengukur perkembangan tidak dapat dengan menggunakan antropometeri, tetapi seperti telah disebutkan di atas bahwa pada anak yang sehat perkembangan searah (paralel) dengan pertumbuhannya.
Perkembangan menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi fangsi didalamnya termasuk pula perkembangan emosi, intelektual, dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Pertumbuhan lebih menekankan pada aspek fisik, sedangkan perkembangan pada aspek pematangan fungsi organ, terutama kematangan sistem saraf pusat.
Pertumbuhan yang optimal sangat dipengaruhi oleh potensi biologisnya. Tingkat pencapaian fungsi biologis seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan yaitu: faktor genetic, lingkungan “bio-fisiko-psikososial”, dan perilaku. Proses itu sangat kompleks dan unik, dan hasil akhirnya berbeda-beda dan memberikan ciri pada setiap anak.

2.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Beberapa ahli di bidang tumbuh kembang anak, mengungkapkan konsep yang berbeda-beda tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Namun demikian perbedaan tersebut dapat pula ditarik beberapa persamaan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Persamaan tersebut mengatakan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu: faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti biologis, termasuk genetic dan faktor eksternal seperti status gizi.
Faktor Internal (Genetik)
Soetjiningsih (1998) mengungkapkan bahwa faktor genetik merupakan modal dasar mencapai hasil proses pertumbuhan. Melalui genetik yang berada di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Hal ini ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.
Faktor internal (genetic) antara lain termasuk berbagai faktor bawaan yang normal dan patologis, jenis kelamin, obstetrik dan ras atau suku bangsa. Apabila potensi genetic ini dapat berinteraksi dalam lingkungan yang baik dan optimal maka akan menghasilkan menghasilkan pertumbuhan yang optimal pula. Gangguan pertumbuhan di negara maju lebih sering diakibatkan oleh faktor genetik ini. Di negara yang juga berkembang, gangguan pertumbuhan selain disebabkan oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak memungkinkan seseorang tumbuh secara optimal. Kematian anak Balita di negara yang sedang berkembang dipengaruhi oleh kedua faktor ini. Menurut Jelliffe D.B. (1989) yang dimasukkan dalam faktor internal adalah genetic, obsterik dan seks.
Faktor Eksternal (lingkungan)
Faktor lingkungan sangat menentukan tercapainya potensi genetic yang optimal. Apabila kondisi lingkungan kurang mendukung atau jelek, maka potensi genetic yang optimal tidak akan tercapai. Lingkungan ini meliputi lingkungan “bio-fisiko-psikososial” yang akan mempengaruhi setiap individu mulai dari masa konsepsi sampai akhir hayatnya.
Secara garis besar, faktor lingkungan dapat dibagi dua yaitu: faktor pranatal dan lingkungan pascanatal. Faktor lingkungan pranatal adalah faktur lingkungan yang mempengaruhi anak pada waktu masih dalam kandungan.

2.3 Hubungan Prilaku Jajan Terhadap Status Gizi Anak
Aspek Gizi dalam penyelenggaraan Makanan untuk Umum. Di negara kita, makanan yang disajikan di kios-kios makanan, cafetaria-cafetaria atau warung-warung makanan, masih lebih banyak bersifat sebagai penambah terhadap makanan yang dimakan oleh yang bersangkutan di rumah, dan karenanya tergolong apa yang disebut “makanan jajan”. Lain lagi dengan di Negara yang industrinya telah maju, seseorang memasuki cafeteria bukankah sekedar untuk jajan, akan tetapi benar-benar sebagai pengganti makan di rumah.
Buruh-buruh ataupun pegawai-pegawai perusahaan yang umumnya bertempat tinggal jauh di luar kota dan akan memerlukan waktu antara setengah sampai satu jam berkendaraan ke tempatnya bekerja, mungkin tidak sempat makan pagi maupun makan siang di rumah. Buruh-buruh dan pekerja-pekerja perusahaan itu terpaksa harus makan pagi dan makan siang di tempat mereka bekerja. Keadaan yang serupa, lambat laun akan terjadi juga di negara kita, terutama di kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung dan kota-kota lain di mana berpusat kegiatan-kegiatan industri, perdagangan, dan sebagainya. Dengan demikian, makanan yang dijual di cafetaria-cafetaria atau warung-warung dan kios-kios makanan tersebut akan segera berubah sifat, bukan lagi sebagai makanan jajan, tetapi akan segera berubah sifat, bukan lagi sebagai makanan jajan, tetapi sebagai pengganti makan di rumah. Yang dengan demikian, aspek-aspek gizi pada penyelenggaraan makanan untuk umum lebih-lebih apabila cafetaria-cafetaria itu diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan itu sendiri, perlu mendapat perhatian. Dan aspek-aspek gizi yang perlu mendapat perhatian ini adalah sebagai berikut:
a. Kelengkapan zat gizi pada setiap porsi makanan yang disajikan, cafeteria yang menyajikan roti (sandwich) untuk sarapan pagi misalnya, di samping mengisikan telur atau daging ke dalam roti, dapat menambahkan beberapa iris tomat dan daun selada ke dalam porsi sandwich yang disajikan. Dengan demikian, di samping sebagai hiasan dari sepotong sandwich tersebut akan diperoleh, bukan saja hidrat arang dan zat putih telur, tetapi juga vitamin dan mineral yang diperoleh dari sayuran tadi. Dan gado-gado yang ditambah lontong dan sepotong telur merupakan makanan yang cukp baik dilihat dari sudut memenuhi kecukupan gizi.
b. Pengolahan makanan. Banyak sekali zat-zat gizi dalam bahan makanan, terutama berbagai jenis vitamin akan hilang sewaktu bahan makanan tersebut diolah dan dimasak. Sayuran yang direndam dalam air akan kehilangan sebagian besar vitamin dalamnya, apabila sayuran sudsah dipotong-potong. Sayuran atau buah-buahan yang disimpan tidak di tempat dingin, juga akan kehilangan sebagian besar vitamin-vitamin dalamnya, lebih-lebih jika sayuran itu sudah layu. Memasak sayur dengan api kecil untuk waktu yang lama akan menyebabkan lebih banyak zat gizi hilang jika dibandingkan dengan memasak dengan api besar dalam tempo yang sangat pendek.
c. Keamanan makanan. Beberapa tahun yang lalu, sebuah kantin yang cukup besar yang berada di pusat kota New York terpaksa ditutup karena kehilangan pelanggan. Penyebabnya adalah karena pada suatu ketika, pengunjung-pengunjung yang makan di kanting itu hampir seluruhnya menderita mencret-mencret (diarrhea), setelah mereka makan di kantin tersebut. Kejadian itu menunjukkan betapa pentingnya pengawasan keamanan makanan di tempat makanan-makanan umum. Setiap pengusaha, dan kepala-kepala dapur harus diberi bekal pengetahuan mengenai berbagai kemungkinan keracunan makanan, sehingga tindakan-tindakan pencegahan dapat dilakukan. Keracunan makanan dapat terjadi karena beberapa sebab.
- Adanya racun-racun alamiah yang terdapat dalam bahan makanan itu. Bahan-bahan makanan seperti jamur, tempe yang dicampur ampas kelapa dan sebagainya merupakan bahan-bahan makanan yang selalu harus diawasi terhadap kemungkinan beracun.
- Makanan-makanan yang terkena (kontaminasi) bakteri-bakteri beracun. Jenis bakteri yang banyak menimbulkan keracunan adalah bakteri-bakteri yang termasuk kelompok Salmonella.

Bahan-bahan kimia itu ada karena tidak sengaja masuk dalam makanan, akan tetapi mungkin juga dimasukkan ke dalam makanan secara sengaja sebagai bahan pengawet. Contoh bahan kimia yang tidak sengaja masuk ke dalam makanan adalah seperti sayuran yang sebelum dipetik, untuk mencegah tanaman tersebut dari serangan hama penyakit, disemprot dengan pestisida (obat anti serangga). Zat kima itu akan tetap melekat pada sayuran. Dalam jumlah yang sangat kecil, zat kimia itu tidak berbahaya. Zat kimia yang melekat pada tanaman itu disebut residu pestisida.
Di Negara yang telah maju, ada undang-undang yang mengatur batas-batas residu pestisida yang masih dibenarkan. Zat kimia yang berupa residu pestisida itu jika jumlahnya cukup tinggi, dan waktu makanan diolah tidak terbuang seluruhnya, akan membahayakan manusia. Karena itu, sayur-mayur, terutama yang disajikan mentah seperti daun selada, tomat dan lain-lain, sebaiknya dicuci dan direndam dalam air bersih lebih dahulu dalam waktu yang cukup lama.
Untuk mengawetkan bahan makanan terutama makanan-makanan kaleng, digunakan zat-zat kimia tertentu. Jenis dan jumah bahan kimia yang dibenarkan digunakan untuk mengawetkan makanan, biasanya diatur Pemerintah dengan undang-undang. Di negara kita undang-undang ini belum ada, sungguhpun pada Departemen Kesehatan telah ada bagian yang mengawasi hal itu yaitu Direktorat Jenderal Pengawasan Obat, Makanan dan Minuman.
Penggunaan zat kimia yang salah ataupun berlebihan akan berbahaya bagi manusia. Karena itu jika menggunakan makanan-makanan yang telah diawetkan, gunakanlah makanan yang pada kalengnya sudah tercantum tanda telah diperiksa oleh Departemen Kesehatan.
Persyaratan di Tempat Penjualan
Penjualan makanan merupakan tahap terakhir pada rantai operasi makanan jajanan kaki lima dan keamanan pangan pada saat penjualan sangat perlu diperhatikan. Persiapan dan penjualan mungkin dilakukan di tempat yang sama (terutama pada penjualan yang menetap) atau terpisah. Namun persyaratan higienis keduanya mirip.
a. Makanan harus dipersiapkan dan dijual dalam tempat yang bersih, tertutup sehingga terlindung dari terik matahari, debu, hujan dan angina. Makanan juga harus terlindung dari sumber pencemaran seperti tempat sampah, got, WC (limbah), dari binatang termasuk hewan peliharaan dan hama.
b. Tempat untuk persiapan, pengolahan dan penjualan seharusnya tidak digunakan untuk penanganan bahan non makanan yang dapat menyebabkan pencemaran makanan dengan bahaya biologis, kimiawai atau fisik.
c. Tempat penjualan, baik yang menetap atau berpindah-pindah harus terletak di tempat yang beresiko atau resiko sangat minim dari pencemaran yang berasal sampah, limbah dan bahan-bahan beracun lain. Jika resiko tersebut tidask dapat dihilangkan seluruhnya, makanan yang dijual harus ditutup dan dijaga supaya tidak tercemar.
d. Pedagang makanan jajanan harus menyucihamakan peralatan makanan dan minuman sebelum dan setelah dipakai atau gunakan peralatan sekali pakai (lebih baik lagi alat-alat yang dapat didaur ulang atau terurai secara biologis).
e. Jika perlu, makanan harus dikemas dengan kertas yang bersih, plastic atau bahan lain. Koran, kertas bekas dan bahan pembungkus lain yang kotor sebiknya tidak digunakan langsung kontak dengan makanan.
f. Para penjual yang menjual makanannya untuk dikonsumsi kelompok beresiko tinggi (misalnya di sekitar sekolah, institusi orang jompo, rumah sakit dan sebagainya) harus benar-benar ketat pengawasan keamanan makanannya. Penjual tersebut harus lebih banyak memperoleh penyuluhan, pelatihan dan pengendalian oleh pejabat berwenang.
Persyaratan untuk pencantuman peringatan juga harus berfokus pada pesan-pesan tentang keamanan pangan. Misalnya, persyaratan bagi pedagang yang menjual bahan pangan mentah hewani atau makanan setengah matang yang langsung dimakan, perlu mencantumkan peringatan yang memberitahukan konsumen adanya peningkatan resiko kesehatan masyarakat bila mengkonsumsi makanan mentah atau setengah matang. Tentu saja, pejabat yang berwenang harus mempertimbangkan pula perlunya pencantuman peringatan-peringatan lain, tetapi harus diingat supaya hal ini jangan terlalu membebani pedagang.
Strategi Untuk Meningkatkan Keamanan Makanan Yang Dijual Para Pedagang Makanan Jajanan Kaki Lima
Strategi untuk meningkatkan makanan jajanan kaki lima hanya dapat dibuat setelah dilakukan studi yang tepat dan telah diperoleh informasi, kondisi dan praktek-praktek pangan setempat. Faktor-faktor yang dapat dipertimbangkan untuk mengembangkan strategi tersebut diperoleh melalui studi awal tentang sistem makanan jajanan kaki lima dan berdasarkan studi ABTPK yang telah disebutkan sebelumnya.
Strategi Untuk Meningkatkan Keamanan Makanan Jajanan Kaki Lima
Strategi untuk meningkatkan keamanan makanan jajanan kaki lima harus berdasarkan studi sistem makanan jajanan kaki lima di tempat tersebut dan berdasarkan beberapa pertimbangan seperti:
- Kebijakan, peraturan, registrasi dan izin;
- Infrastruktur, pelayanan dan desain dan konstruksi unit penjualan
- Pelatihan para penjamah makanan; dan
- Pendidikan konsumen.

Studi yang berdasarkan ABTPK akan lebih berpusat pada strategi persyaratan keamanan pangan.
Faktor-faktor yang memperburuk keadaan gizi anak-anak sekolah antara lain:
a. Anak-anak dalam usia ini umumnya sudah dapat memilih dan menentukan makanan apa yang dia sukai dan mana yang tidak. Seringkali anak-anak ini memilih makanan yang salah, lebih-lebih jika orang tuanya tidak memberikan petunjuk apa-apa kepadanya.
b. Kebiaaan jajan. Dalam usia ini anak-anak gemar sekali jajan. Mungkin sudah menjadi kebiasaan di rumahnya, tetapi mungkin akibat pengaruh kawannya. Kadang-kadang anak-anak ini menolak untuk makan pagi di rumah, dan sebagai gantinya dimintanya uang untuk jajan. Jajan yang mereka berbelanja barang, bahan-bahan atau makanan yang mereka senangi saja, misalnya es, gula-gula atau makanan-makanan lain yang kurang nilai gizinya.
c. Sering, setiba di rumah karena terlalu lelah bermain di sekolah, anak-anak tak ingin makan lagi.

Makanan anak yang berusia antara 3 sampai 5 tahun, tetap sama dengan makanan sebelumnya. Terutama protein dan vitamin A, di samping kalori dalam jumlah yang cukup perlulah mendapat perhatian. Sepertiga dari kebutuhan protein sedapat mungkin diambil dari makanan yang berasal dari hewan. Anak-anak dalam usia ini sudah dapat lebih banyak dikenal dengan makanan-makanan yang disajikan untuk anggota-anggota keluarga lainnya.
a. Melatih anak memilih yang berfaedah
Bagaimana kita dapat menanamkan kebiasaan memilih makanan yang baik kepada anak? Kesukaran yang paling sering kita jumpai adalah anak-anak menolak makanan yang diberikan ibunya. Ada ibu-ibu yang dalam hatinya merasa bangga karena anaknya tidak menyukai sayuran.
b. Jajan dan pengaruhnya
Baikkah jika anak-anak sejak kecil dibiasakan jajan? Dalam saat-saat antara dua waktu makan, sudah terang anak-anak akan merasa lapar. Sering anak-anak itu menangis meminta makanan. Ibu-ibu yang senang mencari mudah pekerjaan, biasanya lalu membelikan anaknya kue-kue di warung-warung atau orang-orang penjual kue terdekat.

Ditinjau dari segi praktisnya, memang membelikan jajan untuk anak-anak ada baiknya. Mungkin karena si ibu terlalu repot, tidak cukup waktu untuk membuatkan anaknya kue-kue atau panganan lain untuk selingan. Penjaja makanan keliling yang menyajikan makanan secara terbuka sangat menarik perhatian dan minat anak-anak untuk jajan.
1) Kue yang dibeli untuk jajan ini biasanya dibuat dari tepung dan gula. Jadi semata-mata mengandung hidrat arang. Dengan demikian dari jajan ini anak-anak semata-mata mendapat tambahan kalori. Walaupun ada zat-zat makanan lain seperti protein, tentu jumlahnya sedikit sekali.
2) Dengan jajan, sering anak lalu terlalu kenyang, lebih-lebih jika jajan itu diberikan berulang kali dalam sehari. Akibatnya anak tidak mau lagi makan makanan. Jika mau jumlah porsi yang dihabiskan sedikit sekali.
3) Kebersihan dari jajan itu sangat diragukan, lebih-lebih jika kue ini dibiarkan terbuka.
4) Jika sesekali keinginan anak untuk jajan tidak dipenuhi, maka anak akan menangis dan menolak untuk makan.
5) Dari segi pendidikan, kebiasaan jajan ini tidak dapat dianggap baik.

c. Kesukaran dalam menyusun makanan anak
Ada beberapa kesukaran dalam menyusun makanan anak-anak di negara kita, antara lain:
1. tidak terdapatnya bahan-bahan makanan yang baik seperti ready cooked food atau praedigested food yang khusus untuk anak-anak.
2. bahan-bahan makanan, di pedesaan umumnya terbatas sehingga tak ada pilihan lain;
3. jika ibu harus menyusun makanannya sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan, mungkin ibu itu terpaksa harus mengorbankan sebagian besar uang belanja untuk keluarganya, hanya untuk anak itu sendiri.
4. bahan-bahan makanan seperti susu, daging, umumnya tidak terbeli oleh sebagian besar keluarga.




Makanan Anak Usia 6 – 12 Tahun
Pada awal usia 6 tahun anak mulai masuk sekolah. Dengan demikian anak-anak ini mulai masuk ke dalam dunia baru di aman dia mulai banyak berhubungan dengan orang-orang di luar keluarganya, dan dia berkenalan pula dengan suasana dan lingkungan baru dalam kehidupannya.
Hal ini tentu saja banyak mempengaruhi kebiasaan makan meraka. Pengalaman-pengalaman baru, kegembiraan di sekolah, rasa takut kalau-kalau terlambat tiba di sekolah, menyebabkan anak-anak ini sering menyimpang dari kebiasaan waktu makan yang sudah diberikan kepada mereka.
Keadan ini harus diatasi sedemikian rupa, sehingga cukup diberikan waktu untuk anak ini beristirahat setelah pulang sekolah, cukup waktu untuk makan pagi, dan sebagainya. Makan pagi biasanya tidak banyak mengandung unsur-unsur gizi, kecuali kalori yang memang diperlukan anak-anak ini untuk menahan rasa lapar mereka di sekolah.

BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif karena bertujuan untuk memberikan gambaran tentang suatu keadaan (status gizi).

4.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di desa Angkup, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah.

4.3 Jadwal Penelitian
Untuk mendapatkan data penelitian ini, maka waktu pengambilan data dilakukan Mei 2008.

4.4 Populasi dan Sampel Penelitian
4.4.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid Sekolah Dasar Angkup yaitu jumlah siswa dan siswi 180 orang.
4.4.2 Sampel
Adapun sampelnya berjumlah 20 orang.

4.5 Pengumpulan Data
4.5.1 Data Primer
Data yang diperoleh dari peninjauan langsung ke lapangan melalui wawancara dan kuesioner.
4.5.2 Data Sekunder
Data diambil dari hasil peninjauan langsung.

4.6 Pengolahan data
Pengolahan data dilakukan dengan memeriksa kuesioner yang mempunyai kode berupa angka.

4.7 Analisis Data
Penelitian bersifat deskriptif dalam bentuk tabel frekuensi.

4.8 Penyajian Data
Penyajian data dalam bentuk silang dan tabel distribusi frekuensi.
DAFTAR PUSTAKA

Moehji Sjahmien, Ilmu Gizi, Jakarta, Papas Sinar Sinanri, 2003.
Fajar Ibu, Penilaian Status Gizi, Jakarta, Buku Kedokteran, 2001.
World Health Organization (WHO), Persyaratan Utama Keamanan Makanan Jajanan Kaki Lima, 1996

Tidak ada komentar: