Loading...

Minggu, 15 Juli 2007

PENGARUH PENGGUNAAN PEMANIS BUATAN PADA MAKANAN TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT

PENGARUH PENGGUNAAN PEMANIS BUATAN PADA MAKANAN TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT

OLEH:
KHAIRU MAIZA
PO.7131005022

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut WHO, makanan dan minuman (jajanan) di Indonesia tak menerapkan standar yang telah direkomendasikan WHO, sehingga dinilai berkualitas buruk dan tidak memenuhi standar gizi. Menurut Juru bicara Forum Pemerhati Komunikasi Gizi dan Kesehatan (FPKGK) bidang Pangan Jajanan, IT.DN Iswara Wanti, M.Sc, WHO merekomendasi keamanan pangan yang berisi lima aturan sebagai “lima golden rules”, yakni: aturan tentang menghindari cara meletakkan makanan-makanan matang dalam suatu wadah, memasak makanan sampai benar matang, tidak menyimpan makanan yang telah diolah dalam waktu yang lama, memilih bahan makanan yang aman, dan menjaga kebersihan makanan.
Kasus keracunan makanan sangat sering terjadi. Ini disebabkan karena sebagian besar makanan atau minuman berbahaya bagi kesehatan karena menggunakan bahan-bahan yang sebenarnya tidak diperbolehkan/berlebihan untuk campuran makanan. Dari hasil survey yang dilakukan Balai Besar Pengawas Obat-Obatan dan Makanan (POM) tahun 2004, Semarang, dari 89 sampel yang diambil di 19 sekolah, 85 diantaranya tak memenuhi syarat kesehatan karena mengandung pengawet, pemanis buatan, penyedap rasa berlebihan, pewarna serta bahan tak higienis. (POM, 2005)
Hasil survey tersebut sebenarnya bukan suatu yang baru karena sebuah penelitian yang diumumkan sekitar tahun 1995 juga menyimpulkan hal serupa. Dampaknya sungguh mengerikan, karena bisa menimbulkan kanker, radang kulit, gangguan pencernaan, hingga yang paling ringan berupa nafsu makan berkurang serta penyakit-penyakit lainnya.
Peraturan Menteri Kesehatan No.722/1988 sudah melarang penggunaan bahan tersebut, tetapi kenyataannya hingga sekarang tetap dipergunakan, khususnya oleh para pembuat atau pedagang yang butuh pemanis buatan, pengawet, pewarna, dan lain-lain.
Dalam menyongsong era globalisasi di abad 21, pembangunan kesehatan diarahkan kepada peningkatan derajat kesehatan serta perbaikan gizi masyarakat.
Bila ditinjau dari sudut perlindungan keamanan makanan jajanan di Indonesia jelas sangat buruk. Itu berarti terjadi ketidak pedulian terhadap Undang-Undang Perlindungan Konsumen No.8 tahun 1999. Apapun produknya, bila dikonsumsi secara berlebihan, tidak baik efeknya pada tubuh, oleh karena itu berusahalah agar tidak mengkonsumsi produk dengan BTP yang sama secara terus menerus dan dalam jumlah besar.
Pembangunan dibidang kesehatan sangat penting dalam rangka peningkatan sumber daya manusia. Salah satu strategi Departemen Kesehatan untuk mencapai Indonesia Sehat adalah prafigma sehat yaitu berorientasi pada upaya promotif, sedangkan olahraga merupakan salah satu cara meningkatkan ketahanan fisik sekaligus untuk mencegah agar tidak mudah sakit. (Depkes RI. 2000)

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut diatas pertanyaan penelitian sebagai berikut:
Apakah ada hubungan penggunaan pemanis buatan pada makanan terhadap kesehatan.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
- Untuk mengetahui pengaruh penggunaan pemanis buatan pada makanan terhadap kesehatan.
2. Tujuan Khusus
- Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan pemanis buatan.
- Untuk mengetahui akibat-akibat yang ditimbulkan dari penggunaan pemanis buatan.
- Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan.
- Untuk mengetahui distribusi penggunaan pemanis buatan terhadap pendidikan.

D. Manfaat Penelitian
- Dapat menambah ilmu pengetahuan tentang hubungan penggunaan pemanis buatan terhadap kesehatan.
- Sebagai masukan bagi dinas kesehatan untuk menerapkan peraturan mengenai penggunaan pemanis buatan.
- Dengan hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi mengenai pengaruh penggunaan pemanis buatan pada makanan terhadap kesehatan.

E. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mencari hubungan antara beberapa variabel seperti pengaruh penggunaan pemanis buatan pada makanan terhadap kesehatan, tetapi ada variable lain yang mempengaruhi penggunaan pemanis buatan. Yaitu (sulitnya untuk memberi sanksi, kurangnya penyuluhan dan ketidakpedulian terhadap kesehatan). Semua ini disebabkan karena terterbatasan waktu dan tenaga sehingga variabel-variabel yang mempengaruhi penggunaan pemanis buatan tidak dapat dijelaskan atau dimasukkan ke dalam penelitian ini.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Pemanis Buatan (Sakarin)
a. Pemanis buatan adalah : bahan-bahan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan dalam jumlah sedikit atau banyak untuk memperbaiki cita rasa.
(Winarno, dkk, 1984)
b. Pemanis buatan adalah bahan yang ditambahkan dan dicampurkan sewaktu pengolahan makanan untuk meningkatkan mutu atau rasa. (Deddy Muelhadi, 1989)
c. Pemanis buatan adalah bahan-bahan yang dibuat dengan sengaja untuk ditambahkan atau diberikan dalam makanan/minuman sebagai pengganti pemanis alami.
(Harris R.S. Karmas, 1989)

B. Faktor-Faktor Yang Mendorong Produsen Memberi Pemanis Buatan
Faktor-Faktor Tersebut Yaitu:
- Harganya lebih murah dibandingkan dengan pemanis alami.
- Ingin mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
- Rasa
- Dapat menimbulkan selera.
- Pendidikan.
- Pengetahuan
(Sampurno, 2004)
Harus diakui pemanis buatan atau penyedap makanan, digunakan secara berlebihan untuk mendapatkan keuntungan dan untuk merangsang nafsu makan terutama makana cepat saji, seperti: kripik dan makanan ringan lainnya banyak yang sengaja dibubuhi penyedap makanan dan pemanis, tujuannya untuk meningkatkan rasa serta memberi aroma yang menarik dan menimbulkan selera. (Prof. Bernd Lindemann, 1990)
Menurut E. Rustamazi, yayasan konsumen Indonesia (1997), bagi industri kecil penggunaan BTP boleh bertujuan untuk menekan biaya produksi dan sering juga akibat ketidaktahuan, sementara bagi industri besar penggunaan BTP lebih ditujukan untuk memenangkan persaingan dengan rival bisnisnya tanpa memperhatikan konsumen.
Dari industri kecil sampai besar, banyak yang menggunakan aspartan (jenis pemanis buatan) dalam produk makanannya, untuk itu banyak industri makanan anak-anak yang mengandung pemanis buatan yang harganya lebih murah dari pada pemanis alami, oleh karena itu makanan manis-manis pun menjadi incaran anak-anak. (Marius, 2001)

C. Hubungan Penggunaan Pemanis Buatan Terhadap Kesehatan
Banyak ahli melalui penelitiannya menemukan orang-orang yang rajin mengkonsumsi pemanis buatan. MSG dan bahan-bahan kimia lainnya menderita beberapa panyakit antara lain: kanker. Sebenarnya pemakaian rata-rata orang Indonesia hanya 0,6 gr perhari. (Dr. Muhilai dkk, dari Puslitbang Gizi Bogor, 1989)
Sakarin atau pemanis buatan boleh dipergunakan tetapi dalam takaran kecil, monosodium glutamate (MSG) juga diperkenankan dipakai sebagai penyedap rasa dalam jumlah terbatas yakni sekitar 0,8% sajian. Jika melampaui ambang batas pemakaian bisa mengundang bahaya, akan tetapi pada kenyataannya hingga sekarang bahan-bahan tersebut dipergunakan bahkan dalam jumlah yang besar, walaupun penggunaan bahan-bahan tersebut sudah dilarang. (Peraturan Menkes, No.722/188)
Sebagian besar makanan/minuman yang dijajakan mengandung bahan-bahan berbahaya seperti: pemanis buatan, pengewet, pewarna, dan lain-lain terutama pemanis buatan, baik anak-anak maupun orang dewasa memerlukan energi yang berasal dari gula alami bukan diganti dengan gula lain (pemanis buatan). (Sampurno, 2004)
Penambahan bahan-bahan kimiawi ke dalam makanan yang berbahaya supaya dihindari seperti: zat warna, pemanis buatan (sakharin), bahan pengewet dan lain-lain, bahkan adakalanya zat-zat yang ditambahkan tersebut dapat memicu terjadinya kanker dan penyakit-penyakit lainnya. (dr. Pirma Siburian, SP,PD, 2005)
Makanan yang aman bagi kesehatan adalah makanan yang bebas dari cemaran mikrobiologi dan tidak melebihi batas zat kimia. Bila itu yang terjadi makanan dapat menimbulkan gangguan kesehatan. (Ir. DN. Iswarawanti, MSC, 2005)
Menurut Ir. DN. Iswarawanti, M.Sc 2005 pemilihan bahan makanan tidak selamanya harus ditujukan kepada bahan yang mahal dan mewah, karena bahan makanan yang harganya murah tetapi sangat bermanfaat ditinjau dari segi gizinya. Di dalam memilih bahan makanan juga perlu diperhatikan bahan-bahan makanan alami yang segar. Demikian juga warna, bau, rasa, tekstur dan kriteria-kriteria lainnya dapat digunakan sebagai petunjuk untuk menilai baik tidaknya suatu makanan.


D. Pengertian Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahterae badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. (UU Kesehatan, No.23/1992)
Kesehatan adalah keadaan sempurna, baik fisik, mental maupun sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat. (Kesehatan Dunia/WHO)
Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. (Winslow, 1920)

E. Upaya Kesehatan
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan pemerintah dan masyarakat. (Soekidjo, 2003) Peningkatan kesehatan ini, baik kesehatan individu, kelompok atau masyarakat harus diupayakan. Upaya mewujudkan kesehatan tersebut dapat dilihat dari 2 aspek yakni: pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan diwujudkan dalam suatu wadah pelayanan kesehatan yang disebut sarana kesehatan. Jadi sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. (Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo, 2003)

· Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kesehatan
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok maupun masyarakat dikelompokkan menjadi 4 yaitu:
1. Lingkungan, yang mencakup lingkungan fisik, sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya.
Contoh fasilitas kesehatan lingkungan, misalnya jamban keluarga, jamban umum, MCK, tempat sampah, dan lain-lain.
2. Perilaku
Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan prilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan termasuk prilaku makan.
3. Pelayanan kesehatan
Seperti: Puskesmas, dalam rangka perbaikan kesehatan masyarakat.
4. Hereditas (keturunan)
Ibu adalah faktor sangat penting dalam mewariskan status kesehatan bagi anak-anaknya. Oleh karena itu pendidikan kesehatan diperlukan agar dapat mewariskan kesehatan yang baik pada keturunan mereka.
(Blum, 1974)

F. Prilaku Manusia dalam Aspek Kesehatan
Prilaku di pengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu:
a. Faktor penghambat (predisposisi factor)
Misalnya: IPTEK, norma, kepercayaan, agama, dan lain-lain.
b. Faktor pendukung (enabling factor)
Misalnya: lingkungan fisik, sarana kesehatan, dan lain-lain.
c. Faktor pendorong (reinforcing factor)
Misalnya: KAP petugas, tomar, keluarga, dan lain-lain.
(Lawrence Green, 1997)
· Prilaku Kesehatan
Klasifikasi lain tentang prilaku kesehatan, antara lain mencakup:
- Makan dengan menu seimbang (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh), di Indonesia dikenal dengan ungkapan 4 sehat 5 sempurna.
- Olahraga teratur.
- Tidak merokok.
- Tidak minum minuman keras dan narkoba.
- Menghindari/mengurangi makan makanan yang mengandung bahan-bahan kimia.
- Istirahat cukup.
- Mengendalikan stress.
- Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan.
(Becker, 1979)

Disebutkan bahwa pikiran dan persepsi seseorang merupakan faktor penentu prilaku yang utama (teori ini oleh Fishbein dan Azjen, 1980). Menurut mereka prilaku merupakan faktor penentu utama terhadap prilaku yang diinginkan, karena faktor ini membentuk komitmen seseorang untuk melakukan prilaku tersebut. (Mc Kee, 2000)
Ada 2 faktor yang mempengaruhinya yaitu:
1. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, tetapi sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behavior). (Bloom, 1908)
2. Sikap
Yakni penilaian seseorang terhadap baik atau buruknya prilaku sehingga dilakukan atau tidak, yaitu dengan pertimbangan hasilnya akan baik (sikap yang menguntungkan) atau hasil yang tidak baik (sikap yang merugikan).

G. Peran Pendidikan Kesehatan Terhadap Kesehatan Individu dan Masyarakat
Pendidikan kesehatan adalah suatu bentuk intervensi atau upaya yang ditujukan kepada prilaku agar prilaku tersebut kondusif untuk kesehatan. Pendidikan kesehatan selalu terkait dengan prilaku. (Soekidjo, 2003)
Pendidikan kesehatan adalah upaya untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain, baik individu kelompok atau masyarakat, agar melaksanakan prilaku hidup sehat. (Green, 1980)
Keadaan kesehatan gizi masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi, tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas dan kuantitas hidangan atau makanan. Kalau susunan hidangan memenuhi kebutuhan tubuh maka tubuh akan mendapat kondisi kesehatan gizi yang sebaiknya disebut adekuat, sebaliknya pula konsumsi yang kurang baik memberikan kondisi kesehatan gizi kurang atau kondisi defisiensi yang disebut gizi kurang. (Berg & Robert, 1987)
Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal (dari dalam diri manusia) yang terdiri dari faktor fisik dan psikis, maupun faktor eksternal (dari luar diri manusia) terdiri dari berbagai faktor yaitu sosial, budaya, masyarakat, lingkungan fisik, politik, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. (Blum, 1974)
WHO pada awal tahun 1980-an, menyimpulkan bahwa pendidikan kesehatan tidak perlu mencapai tujuannya, apabila hanya memfokus pada upaya-upaya perubahan prilaku saja, pendidikan kesehatan harus mencakup pula upaya perubahan lingkungan (fisik, sosial budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya) sebagai penujang atau pendukung perubahan prilaku tersebut.
UU Kesehatan 23/1992 menjelaskan tentang kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial. Dalam tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam peningkatan gizi, kebiasaan hidup, perbaikan sanitasi lingkungan, kesehatan perorangan, dan sebagainya.

H. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Menurut Green, 1980, peningkatan pengetahuan tidak selalu menyebabkan perubahan prilaku, namun hubungan positif antara kedua variabel ini telah diperlihatkan di dalam sejumlah penelitian yang dilakukan sampai saat ini.

I. Pekerjaan
Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Masyarakat pekerja mempunyai peranan dari kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku dan tujuan pembangunan, dimana dengan berkembangnya IPTEK dituntut adanya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan mempunyai produktivitas yang tinggi hingga mampu meningkatkan kesejahteraan dan daya saing di era globalisasi. (Mudyaharjo P, 2002)

BAB III
KERANGKA PENELITIAN
Penggunaan pemanis buatan (variabel independent) yang berhubungan dengan timbulnya gangguan kesehatan (variabel dependent). Dalam hubungan ini penyakit adalah variabel pengganggu (perancu) karena penyakit berhubungan dengan penggunaan pemanis buatan dan penyakit seperti kanker, dan lain-lain.
Penggunaan pemanis buatan independent
Kesehatan dependent
Penyakit perancu
A. Hipotesa
1) Ada hubungan penggunaan pemanis buatan pada makanan terhadap kesehatan masyarakat.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang berhubungan dengan pengaruh penggunaan pemanis buatan pada makanan terhadap kesehatan dapat disimpulkan:
1) Orang yang sering mengkonsumsi pemanis buatan lebih besar kemungkinan menderita berbagai macam penyakit diantaranya kanker.
2) Hampir disemua makanan & minuman, baik oleh industri kecil maupun industri besar, serta para pedagang menggunakan pemanis buatan.
3) Adapun hubungan antara faktor pendidikan yang tinggi atau rendah, pengetahuan yang baik, sikap, pekerjaan dan pendapatan terhadap penggunaan pemanis buatan.

B. Saran
1) Diharapkan pada instansi kesehatan setempat agar dapat memberikan/meningkatkan penyuluhan tentang bahaya penggunaan pemanis buatan yang berlebihan pada makanan dan minuman terhadap kesehatan.
2) Diharapkan kepada pemerintah, khususnya Departemen Kesehatan agar dapat menerapkan peraturan-peraturan yang tegas kepada perusahaan-perusahaan makanan yang menggunakan BTM (Pemanis Buatan) secara berlebihan yang berlebihan yang dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Profil Kesehatan Indonesia, Departemen Kesehatan RI, 2001, Jakarta.
2. Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo, Pendidikan Prilaku Kesehatan, Rineka Cipta, 2003, Jakarta.
3. Khumaldi, M. Gizi Masyarakat, PT. Bpk Gunung Muko, 1994, Bogor.
4. Mudyaharjo, R, Pengantar Pendidikan, Rajawali Press, 2002, Jakarta.

Tidak ada komentar: