Loading...

Minggu, 15 Juli 2007

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA

DISUSUN OLEH:

EMI ROSLAINI

PO.7131005010

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai yang dituangkan dalam visi Indonesia Sehat 2010. Maka ditetapkan misi pembangunan kesehatan yaitu: menggerakkan pembangunan nasional berwawasan kesehatan, mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat, memelihara dan meningkatkan individu, keluarga dan masyarakat beserta lingkungan. (Ahmad Sudjudi,1999)
Dan untuk dapat terlaksanakan upaya kesehatan tersebut ditegaskan dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 bahwa: untuk meningkatkan derajat kesehatan optimal bagi masyarakat maka pemerintah menyelang gerakan upaya kesehatan dengan pendekatan pemeliharaan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif) pengobatan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatam (rehabiutatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu serta berkesinambungan untuk menghasilkan pembangunan tersebut maka masarakat perlu diikutsertakan agar berpatisipasi aktif dalam upaya kesehatan. (Undang-Undang Kesehatan, 1992)
Salah satu arah dan kebijaksanaan pembangunan kesehtan di Indonesia adalah peningkatan status gizi masyarakat yang merupakan syarat penting untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil ,menurunkan angka kamatian ibu, bayi dan balita, serta meningkatkan kemampuan tumbuh kembang bayi, balita tersebut.
Hakikatnya UPGK adalah upaya merubah tingkah laku anggota keluarga dan masyarakat yang dilaksanakan melalui alih teknologi gizi. Dengan adanya beberapa faktor penentu pemecahan masalah gizi melalui program UPGK tidak hanya dilakukan oleh sektor kesehatan saja tetapi dari berbagai sudut sehingga program UPGK merupakan salah satu paket kerja sama lintas sektorat, kegiatan UPGK pada dasarnya dilakukan sendiri oleh masyarakat dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi milik masyarakat sendiri untuk mengatasi masalah gizi serta meningkatkan status gizi dalam hubungan ini Puskesmas hanya memberikan bimbingan dan bantuan teknis dalam hal yang tidak dapat dilakukan dan disediakan sendiri oleh masyarakat. (Departemen Kesehatan RI, 1994)
Masalah gizi utama yang dihadapi masyarakat khususnya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah anemia gizi besi ibu hamil 55,50%, kekurangan energi protein 33,92%, anemia gizi besi balita 29,10%, gangguan akibat kekurangan yodium 5,92% dan kekurangan vitamin A 0% (hasil pemantauan status gizi Provinsi NAD, tahun 2001).
Hal ini berhubungan dengan terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan di Indonesia sejak tahun 1997. Khususnya yang terjadi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diperparah lagi dengan krisis keamanan yang memberikan implikasi tersendiri terhadap kesehatan masyarakat terutama terhadap penurunan status gizi masyarakat khususnya pada kelompok rentan yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan anak-anak balita.
Upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan keadaan gizi masyarakat adalah melalui usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) dengan mengikut sertakan masyarakat. Dimana salah satu wadah masyarakat dalam usaha perbaikan gizi keluarga dilakukan melalui Posyandu dengan melibatkan kader. Para kader kesehatan masyarakat itu seyogianya memiliki latar belakang yang cukup sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan secara optimal. Mutu pelayanan oleh seorang kader kesehatan masyarakat itu tergantung pada keterampilan dan dedikasi dari masing-masing individu. Namun juga tergantung pada mutu pelatihan yang pernah didapanya. Pengamatan terhadap keterampilan mereka dilapangan maupun dukungan kepercayaan yang diberikan kepada mereka serta jaringan komunikasi yang baik. (Sutomo, 1995)
Posyandu di Indonesia pada tahun 1985 baru berjumlah sekitar 25.000 pos. Setahun setelah pencanangan oleh Bapak Presiden meningkat menjadi 185.660 pos dan tahun 1996 menjadi 244.470 pos. Peningkatan jumlah ini juga terjadi di Propinsi NAD. Jumlah yang besar tersebut ternyata dibarengi dengan perannya yang menonjol khususnya dalam meningkatkan cakupan program yang sasarannya adalah bayi, balita dan ibu dan pada beberapa tahun terakhir ini fungsi dan kinerja Posyandu cenderung menurun, disebabkan antara lain oleh Program Pembinaan dari sector yang masih kurang. Adanya pengaruh krisis ekonomi dan situasi yang tidak kondusif. (Profil UKBM, Aceh, 1998)
Dari hasil survey Data Kesehatan NAD tahun 1999 diketahui program (K/S) dari 98,1% tahun 2000 menjadi 94,6% tahun 2001, dan penurunan hasil penimbangan bulan (N/S) dari 65,8% tahun 2000 menjadi 62,5%. Itulah hasil penimbangan kader posyandu di Puskesmas.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah: “Belum diketahuinya gambaran umum tentang pengetahuan, sikap.”
Apakah ada hubungan faktor-faktor kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas dengan usaha perbaikan gizi keluarga.

C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran umum tentang “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kader Posyandu Dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas”.
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan kader dalam usaha perbaikan gizi keluarga.
2. Untuk mengetahui gambaran sikap kader dalam usaha perbaikan gizi keluarga.
3. Untuk mengetahui gambaran tingkat pendidikan dalam usaha perbaikan gizi keluarga.
4. Untuk mengetahui gambaran jenis pekerjaan dalam usaha perbaikan gizi keluarga.
5. Untuk mengetahui gambaran latihan kader dalam usaha perbaikan gizi keluarga.
6. Untuk mengetahui gambaran lamanya menjadi kader dalam usaha perbaikan gizi keluarga.
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Keilmuan
· Untuk mengetahui gambaran sejauh mana kemampuan kader Posyandu dalam kegiatan usaha perbaikan gizi keluarga.
b. Bagi Penulis
· Memberikan pengalaman serta mengembangkan kemampuan dan menambah wawasan berpikir penulis.

E. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap kader Posyandu yang meliputi pengetahuan, sikap, pendidikan, pekerjaan, latihan kader dan lamanya menjadi kader posyandu dalam usaha perbaikan gizi keluarga.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pengetahuan, Sikap, Pendidikan dan Pekerjaan
Menurut Soekidjo Notoatmojo (1999), prilaku dapat dibatasi sebagai keadaan jiwa (berpendapat, berpikir, bersikap dan sebagainya) untuk memberikan respon terhadap situasi diluar subjek tersebut. Responsi dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) dan dapat juga bersifat aktif (dengan tindakan konkrit).
Pengertian perilaku diatas tidakfah mutlak, banyak ahli perilaku lain yang memberikan pengertian tentang perilaku Menurut Skinner (dalam Notoatmojo 1996) mendefinisikan perilaku sebagai hasil hubungan antara perangsang dengan respon. Berdasarkan definisi perilaku diatas, dapat diambil suatu kesamaan bahwa perilaku baru dapat terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi. Sesuatu itulah yang disebut rangsangan (stimulus).
Perilaku manusia dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) bentuk operasional (Notoatmodjo, 1999) yaitu:
1. Perilaku dalam bentuk pengetahuan, yaitu dengan mengetahui situasi atau rangsangan dari luar.
2. Perilaku dalam bentuk sikap, yaitu tangppan batin terhadap rangsangan dari luar diri si objek sehingga alam itu sendiri akan mencetak perilaku manusia itu sendiri yang hidup didalamnya, sesuai dengan sifat dan keadaan alam itu sendiri.
3. Perilaku dalam bentuk yang sudah konkrit, yaitu berupa perbuatan (action) terhadap situasi atau rangsangan dari luar.
1. Analisa Perilaku Kesehatan
Berdasarkan teori yang mengungkapkan determinan perilaku berangkat dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, salah satunya adalah “Teori Lawrence Green” bahwa kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 (dua) faktor yaitu faktor perilaku dan faktor di luar perilaku. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk oleh tiga faktor yaitu: ( Notoatmodjo,1999):
a. Faktor-faktor predisposisi (Predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
b. Faktor-faktor pendukung (Enabling Factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia tau tidak tersadia fasilitas (sarana kesehatan).
c. Faktor-faktor pendorong (Reinforcig Factors) yang terwujud dalam sikap dan perilaku dari petugas kesehatan atau yang lain yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat.

2. Pengetahuan (Knowledge)
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting opuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior).
Pengetabuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni (Notoatmojo, 1999).

a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya, termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan sebenarnya tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampman untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masb di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis menunjukkan kepada kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan baglan-bagian di dalam bentuk keseluruhan yang baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.
3. Sikap (Attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dan seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Seperti halnya dengan pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yakni (Notoatmojo, 1999).
a. Menerima (Receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (objek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
b. Merespon (Responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya. mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dan sikap.
c. Menghargai (Valuing)
Mengajak orang lain untuk menperiakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (Responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala. resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.

4. Pendidikan
Pembangunan nasional dibidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, serta memungkinkan para warganya mengembangkan diri baik berkenaan aspek jasmani maupun rohani berdasarkan pancasila dan UUD 1945. (UU Sistim Pendidikan Nasional , 1993).
Menurut Mj. Langevelt (Notoatmojo, 1999) mendefenisikan pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak, yang tertuju kepada kedewasaan Dimana tujuan pendidikan adalah kedewasaan (jasmani dan rohani). Proses pendidikan adalah sasaran pendidikan atau anak didik yang mempunyai karakteristik, sedangkan keluaran proses pendidikan adalah tenaga/ lulusan yang mempunyai kualifikasi tertentu sesuai dengan tujuan pendidikan (Notoatmojo, 1999)

5. Pekerjaan
Pekerjaan merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh kepala keluarga untuk mendapatkan suatu penghasilan dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk mengetahui pekedaan masyarakat dapat digunakan kriteria penilaian bekerja/tidak bekerja. Dikatakan bekerja apabila responden melakukan suatu aktivitas untuk mendapatkan penghasilan. Dan dikatakan tidak bekerja apabila responden tidak melakukan suatu aktivitas untuk mendaptkan penghasilan.

6. Proses perubahan perilaku
Untuk merubah atau memotivasikan seseorang agar mau menerima sikap dan kebiasaan baru bukanlah hal yang mudah, sebab tersangkut didalamnya bukan saja proses intrapersonal yaitu ada keuntungan yang diperoleh orang tersebut dengan merubah pendapatannya tapi jugs proses interpersonal yaitu apakah dengan menerima gagasan yang baru ia tidak tersisih dari kelompoknya.
Menurut Rogers (dalam Notoatmojo, 1999), proses kejiwaan yang dialami oleh individu sejak pertama kali memperoleh informasi atau pengetahuan mengenai hal yang baru itu, berjalan melalui 4 (empat) tahap, yaitu:
1) Knowledge
Yaitu yang memberikan pengetahuan-pengetahuan mengenai kesehatan, menurut bidang yang akan dicapai program tersebut.
2) Persuasion
Masyarakat sudah mulai mengambil hati terhadap pengetahuan yang diperoleh.
3) Decision
Masyarakat sudah memutuskan untuk mencoba tingkah laku baru. Untuk itu perlu adanya motivasi yang kuat dan keterangan yang jelas dan petugas kesehatan.
4) Confirmation
Apabila individu atau masyarakat sudahmu melaksanakan tingkah laku baru sesuai dengan norma-norma kesehatan.

7. Bentuk Perubahan Perilaku
Bentuk perubahan perilaku ini dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yakni:
1. Perubahan Alamiah (Natural Change)
Perubahan manusia selalu berubah dimana sebagian perubahan disebabkan karena kejadian alamiah.
2. Perubahan Terencana (Planned Change)
Perubahan perilaku terjadi memang direncanakan sendiri oleh subjek.
3. Kesediaan untuk Berubah (Readiness to Change)
Apabila terjadi suatu inovasi maka sebagian orang sangat cepat menerima inovasi tersebut dan sebagian orang lagi sangat lambat untuk menerima inovasi.
Agar diperoleh perubahan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kesehatan sangat diperlukan usaha-usaha konkrit dan positif. Oleh WHO, usaha-usaha tersebut dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yakni:
1) Menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan
Perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga la mau melakukan perubahan tersebut.
2) Pemberian Informasi
Dengan memberi informasi-informasi tentang kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan.
3) Diskusi dan Partisipasi
Masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi tetapi juga harus aktif berpartisipasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi yang diterimanya.

B. Usaha Perbaikan Gizi Keluarga
1. Pengertian Usaha Perbaikan Gizi Keluarga
Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) ialah gerakan sadar gizi yang bertujuan memacu upaya masyarakat terutama di desa agar mencukupi kebutuhan gizinya melalui pemanfaatan penganekaragaman pangan sesuai dengan kemampuan ekonomi keluarga dan keadaan lingkungan setempat. Dengan kata lain Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ialah kegiatan masyarakat untuk melembagakan upaya peningkatan gizi dalam setiap keluarga di Indonesia. Jadi secara rinci Usaha Perbaikan Gizi Keluarga ialah: (Tim Pengelola Usaha Perbaikan Gizi Keluarga TK.Pusat, 1999).
1. Merupakan usaha keluarga atau masyarakat untuk memperbaiki gizi pada semua anggota keluarga/masyarakat.
2. Dilaksanakan oleh keluarga atau masyarakat dengan kader sebagai penggerak masyarakat dan petugas beberapa sektor sebagai pembimbing dan pembina.
3. Merupakan bagian dari kehidupan keluarga sehari hari dan bagian integral dari pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
4. Secara operasional ialah rangkaian kegiatan yang saling mendukung untuk melaksanakan alih teknologi sederhana pada keluarga atau masyarakat.

2. Kegiatan Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
Kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga merupakan panduan antara kegiatan monitoring dan intervensi gizi, dimana kegiatan monitoring dilakukan dengan melihat naik atau tidak naiknya berat badan anak, yang dilakukan sebulan sekali dengan jalan peneimbangan balita, dengan penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS). Sistim ini disebut SKDN. Intervensi gizi difokuskan setelah penimbangan dilakukan, yaitu setelah diketahui naik atau tidaknya berat badan seseorang anak. Intervensi dapat bersifat promotif dengan penyuluhan-penyuluhan gizi, atau bersifat, kuratif seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau pengobatan sederhana dengan cara rujukan ke Puskesmas.
Dalam program Usaha Perbaikan Gizi Keluarga telah disiapkan seperangkat pesan-pesan penyuluhan gizi untuk menghadapi anak, baik berat badannya naik maupun yang tidak naik. Pesan-pesan penyuluhan gizi sifatnya spesifik, berarti apa yang harus dilakukan untuk mencapai kenaikan berat badan. Disini dicegah penyuluhan yang bersifat umum seperti “empat sehat lima sempurna” untuk anak yang tidak naik berat badannya. Suplementasi gizi diberikan dalam bentuk kapsul vitamin A, tablet tambah darah atau makanan tambahan.
Secara jelas dapat dijelaskan bahwa kegiatan-kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dalam Repelita V yang telah lalu meliputi tiga komponen besarnya yaitu : (Dep.Kes.RI, 1994)
1) Penyuluhan Gizi Masyarakat
Tujuan kegiatan ini adalah terjadinya proses perubahan pengertian, sikap dan perilaku yang lebih sehat mengenai kegunaan dan pemanfaatan pelayanan gizi yang tersedia di masyarakat.
2) Pelayanan Gizi Melalui Posyandu
Tujuan pelayanan ini terutama adalah menurunkan angka KEP dan kebutaan karena kekurangan vitamin A pada balita serta anemia pada ibu hamil.
3) Peningkatan Pemanfaatan Tanaman Pekarangan.
Salah satu pelayanan gizi di Posyandu adalah pemberian makanan tambahan kepada anak balita yang dilaksanakan oleh kader-kader PKK atau kader desa lainnya dengan bimbingan teknis oleh petugas gizi Puskesmas.

3. Sejarah Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
Program perbaikan gizi dirintis sejak tahun 1950-an. Dimulai dengan terbentuknya Panitia Negara MMR (Menu Makanan Rakyat) dan LMR (Lembaga Makanan Rakyat). Usaha Perbaikan Gizi Keluarga telah ada sejak tahun 1963 di Jawa Tengah yang disebut ANP (Applied Nutrion Program) dan baru diubah menjadi Usaha Perbaikan Gizi Keluarga sejak tahun 1969. Untuk meningkatkan kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, maka pemerintah memperluas program ini secara nasional bersifat 2 (dua) bidang, yaitu: lintas sektoral yang melibatkan peran serta masyarakat dan lintas program yang mengikutsertakan sektor dalam negeri seperti tim penggerak PKK secara terpadu. (Dep.Kes.RI, 1994).

4. Tujuan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK)
Secara garis besar dapat diketahui tujuan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga antara lain :
1) Kemampuan masyarakat untuk melakukan penganekaragaman dengan variasi yang sederhana namun bermanfaat bagi keluarga.
2) Kesadaran masyarakat untuk memperbaiki gizi secara, mandiri, yang berarti dapat meningkatkan status gizi mereka.

5. Pencatatan Dan Pelaporan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK).
Salah satu sistem pencatatan dan pelaporan penimbangan balita adalah dengan balok SKDN yang memberikan gambaran keberhasilan kegiatan program di suatu wilayah. SKDN dapat digunakan sebagai alat ukur dan masing-masing huruf mempunyai arti. S adalah semua anak yang ada diwilayah tertentu, K adalah jumlah anak yang sudah memiliki KMS, D adalah jumlah anak yang ditimbang, dan N adalah jumlah anak yang naik berat badannya dari sejumlah anak yang ditimbang. Angka-angka ini kurang dapat menunjukkan perubahan status gizi masyrakat yang dimonitor. Walaupun demikian masih ada manfaatnya seperti :
1) Angka proporsi atau persentase K/S dapat memberikan gambaran tentang penyebab atau distribusi KMS, apakah KMS sudah tersebar ke setiap anak yang ada.
2) Angka proporsi atau persentase D/S dapat memberikan gambaran tentang perubahan atau fluktuasi partisipasi masyarakat terhadap program gizi khususnya dalam program penimbangan bulanan. Selanjutnva angka ini dapat digunakan untuk mencari sebab-sebab kenapa pada saat-saat tertentu angka ini tinggi dan pada saat lain rendah. Sehingga hasil ini dapat dijadikan dasar dalam menentukan langkah-langkah kebijakan tertentu.
3) Angka proporsi atau persentase N/D dapat memberikan gambaran perkembangan anak (walau secara kasar) dari waktu ke waktu.
4) Angka proporsi atau persentase D/K dapat memberikan kesinambungan kegiatan penimbangan bulanan.
5) Angka proporsi atau persentase N/S dapat memberikan gambaran besar kecilnya nilai dari efektifitas kegiatan program.

C. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat, dimana masyarakat sekaligus dapat memperoleh pelayanan Keluarga Berencana dan kesehatan. Disamping itu posyandu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk tukar pendapat serta bermusyawarah untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.
1. Tujuan Penyelenggaraan Posyandu
a. Menurunkan jumlah kematian bayi, anak balita dan ibu hamil.
b. Mempercepat terwujud visi keluarga berkualitas tahun 2015.
c. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan lainnya yang menunjang.

2. Kegiatan-Kegiatan Posyandu
Posyandu dibuka/diselenggarakan sebulan satu kali, urutan kegiatan pada hari buka posyandu adalah sebagai berikut: (Tim Pengelola Usaha Perbaikan Gizi Keluarga TK.Pusat, 1999).
1) Meja I Pendaftaran oleh Kader Posyandu
2) Meja II Penimbangan bayi dan anak balita oleh kader Posyandu.
3) Meja III Pengisian KMS oleh Kader Posyandu
4) Meja IV Penyuluhan kepada ibu-ibu hamil dan ibu-ibu yang bayi dan anakbalita serta usia subur yang dilakukan oleh kader posyandu.
5) Meja V Pelayanan Imunisasi, Keluarga Berencana, pemeriksaan ibu hamil, gizi Yang dilakukan oleh petugas Puskesmas.
Kecuali itu ada sebagian posyandu yang memberikan PMT kepada bayi dan anak balita secara swadaya, PMT ini diberikan setelah meja V (lima). Disamping itu ada pula Posyandu yang melakukan penyuluhan kelompok sebelum meja I (satu) ataupun setelah meja V (lima). Dalam penyeienggaraan posyandu ini sangatlah jelas bahwa yang mempunyai peranan besar adalah kader, dalam hal ini tentunya kader yang aktif dalam setiap kegiatan Posyandu.

D. Kader
1. Pengertian Kader
Kader, menurut Direktorat Pelayanan Kesehatan Masyarakat, adalah tenaga sukarela yang berasal dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat setempat, yang telah memperoleh latihan dan merasa terpanggil untuk melaksanakan, memelihara dan mengembangkan kegiatan yang tumbuh ditengah-tengah masyarakat dalam usaha pengembangan.
2. Tugas Kader
Tugas kader dalam penyelenggaraan posyandu adalah:
1) Memberi tabu hari dan jam buka posyandu kepada para ibu-ibu pengguna posyandu (ibu hamil, ibu yang mempunyai bayi dan balita serta ibu usia subur) sebelum hari buka posyandu.
2) Menyiapkan peralatan untuk penyelenggaraan posyandu sebelum posyandu dimulai seperti timbangan, buku catatan, KMS, alat peraga penyuluhan dan lain - lain.
3) Melakukan pendaftaran bayi, balita, ibu hamil, dan ibu usia subur yang hadir di posyandu.
4) Melakukan penimbangan bayi dan balita.
5) Mencatat hasil penimbangan kedalam KMS.
6) Melakukan penyuluhan perorangan kepada ibu-ibu di meja IV dengan isi penyuluhan sesuai dengan permasalahan yang dihadapi ibu-ibu yang bersangkutan.
7) Melakukan penyuluhan kelompok kepada ibu-ibu sebelum meja I (satu) atau setelah meja V (kalau diperlukan).
8) Menyiapkan dan membagikan makanan tambahan untuk bayi dan balita (bila ada).
9) Melakukan kunjungan rumah.

E. Hubungan Antara Kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga dan kegiatan Posyandu
Usaha Perbaikan Gizi Keluarga sebagai upaya memperbaiki keadaan gizi masyarakat merupakan serangkaian kegiatan yang saling berkaitan untuk menanggulangi masalah gizi terutama KEP pada balita. (Muryati Sihombing, 1990). Untuk menciptakan peran aktif masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga maka perlu dilaksanakan strategi KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang tepat yaitu:
1. Penyederhanaan pengertian gizi pada masyarakat dengan semboyan “Anak Sehat adalah Bertambah Umur Bertambah Berat”.
2. Pengalihan teknologi sederhana pada masyarakat untuk memonitoring dinamika pertumbuhan Berat Badan (BB) anak balita yaitu penimbangan bulanan dengan dacin dan pencatatan pada KMS.
3. Penimbangan bulanan adalah kegiatan utama dan ciri khas dari Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, tanpa adanya kegiatan penimbangan bukan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga.
4. Ada tindak lanjut setelah ditimbang, minimal penyuluhan gizi dan pesan yang spesifik.
5. Intervensi langsung yang sederhana, misalnya Larutan Gula Garam (LGG), vitamin A dosis tinggi dan tablet besi.
Agar masyarakat dapat lebih termotivasi dan dapat lebih merasakan manfaat Usaha Perbaikan Gizi Keluarga, maka dapat dikembangkan bentuk pelayanan lainnya, misainya PMT, penyuluhan, rujukan, pelayanan kontrasepsi, imunisasi dan lain-lain. Kegiatan tersebut sekarang lebih dikenal dengan Posyandu. Oleh karena itu kegiatan posyandu, kelompok kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga merupakan pintu masuk atau “Entry Point”dari pada kegiatan Posyandu.
Dengan demikian kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga yang disatukan dalam posyandu adalah kegiatan penimbangan bulanan balita. Sedangkan kegiatan Usaha Perbaikan Gizi Keluarga yang lainnya dilaksanakan diluar kegiatan Posyandu sebagai aktivitas rutin misalnya tanaman pekarangan, kebun percontohan, motivasi melalui jalur agama (kelompok pengajian, ceramah di mesjid), peningkatan konsumsi makanan yang dilakukan oleh keluarga di desa, pengaturan pemberian ASI dan makanan pengganti ASI yang dilakukan oleh ibu rumah tangga dan lain-lain.
BAB III
KERANGKA PENELITIAN

A. Konsep Pemikiran
Banyak faktor yang mempengaruhi kader terhadap usaha perbaikan gizi keluarga diantaranya faktor pengetahuan, sikap, ketrampilan, fasilitas atau sarana kesehatan, pekerjaan, latihan kader, lamanya menjadi kader serta prilaku petugas kesehatan.

Kerangka konsep penelitian:
Variabel Independent Variabel Dependen
Pengetahuan
Sikap Kader Posyandu Dalam UPGK
Pendidikan
Pekerjaan Kader
Latihan Kader
Lamanya menjadi kader

D. Hipotesa
Ada hubungan kader Posyandu dalam usaha perbaikan gizi keluarga.

BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah cross sectional, dimana variabel bebas dan variabel terikat yang diteliti dikumpulkan dalam waktu yang sama. Dengan demikian hubungan yang akan terjadi antara variabel tidak dapat menunjukkan hubungan sebab akibat, sedangkan sifat penelitian ini merupakan deskriptif analitik.

B. Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli 2007 dan mengambil tempat di …….

C. Subjek Penelitian
Pada penelitian ini seluruh populasi dijadikan sample atau populasi adalah seluruh kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas yang ada di ….

D. Pengumpulan Data
1. Data Primer
Diperoleh langsung dengan wawancara melalui pengisian kuesioner yang respondennya adalah kader Posyandu.
2. Data Sekunder
Diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi NAD, serta dari Puskesmas dan juga petugas kesehatan di Puskesmas berupa laporan tahunan dan profil kesehatan.

E. Pengolahan Data
Data yang telah dikumpulkan selanjutnya diolah dengan tahapan sebagai berikut:
Editing
Ini dimaksudkan untuk meneliti apakah isian pada lembaran penelitian sudah cukup baik dan dapat diproses lebih lanjut.
Coding (pemberian kode)
Adalah usaha untuk mengklasifikasikan jawaban-jawaban atau hasil-hasil yang ada menurut macamnya klasifikasi dilakukan dengan cara menandai jawaban dengan kode tertentu.
Tabulating (perhitungan data)
Adalah data yang diperoleh dan dikelompokkan sesuai dengan karakteristik serta ditampilkan dalam bentuk tabel.

F. Analisis Data
Data hasil penelitian ini menggunakan analisa secara deskriptif yaitu menghitung variabel yang diteliti dengan persentase dari hasil setiap variabel.

G. Penyajian Data
Data penelitian yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, grafik.

Tidak ada komentar: